Minggu, 30 Desember 2012

Making The Parents Pround Before Love #2



            Hari demi hari telah terlalui, tak terasa sudah hampir satu bulan Yunda dekat dengan Zion usai insiden makan satu meja bulan lalu. Tak disadari diam-diam Zion telah memendam rasa kapada Yunda. Baginya Yunda telah memotivasi dirinya untuk menjadi sosok yang tegar dalam menjalani hidup. Yundalah yang mengajarinya tentang arti sebuah keiklasan yang belum pernah ia dapatkan dari orang lain. Dan pada hari ini ia bertekat akan mengutarakan parasaannya kepada Yunda. Entah apapun jawaban Yunda nanti, ia akan berusaha menerima dengan lapang dada.
            Jam istirahat telah berdentang. Suasana kelas Zion kali ini sudah riuh dengan suara-suara siswa yang tak sabar menghirup udara diluar kelas. Sesuai dengan hati Zion kali ini, ia buru-buru keluar kelas untuk bertemu dengan Yunda. Langkah kakinya kini telah berhenti didepan kelas Yunda. Hatinya bergetar tak karuan, dengan sekali tarikan nafas ia pun masuk. Didapatinya Rara sang sahabat dekat Yunda sedang duduk dengan memegang sebuah novel.
“Ra, Yundanya mana?” tanya Zion to the point. Rarapun mengalihkan perhatiannya pada Zion dan mulai menyunggingkan seulas senyum jail.
“Hayoo mau ngapain?” sergah Rara.
“Ayolah Ra, Yundanya dimana?” tanya Zion tak sabar, Rara hanya nyengir.
“Yundanya lagi di perpustakaan, tadi dia disuruh Pak Koesno cari bahan buwat tugas IPS.” terang Yunda.
“Ya sudah aku kesana dulu ya..Bay Ra.” ucap Zion mulai berjalan meninggalkan Rara.
“Bay.” Rara pun kembali sibuk dengan novelnya.
            Dengan langkah terburu-buru ia menuju ruang perpustakaan. Sesampainnya didepa ruang perpus kembali Zion menarik nafas dan menghembuskannya secara pelan lagi. Matanya kini sibuk menelusuri setiap tempat yang ada di perpustakaan itu. Sampai akhirnya ia menemukan manusia yang dicarinya sejak tadi. Ia pun melangkah mendekati Yunda
“Hai !!” sapanya, Yundapun menoleh dengan seulas senyum dibibirnya. ‘Subhanallah… manisnya’ gumam Zion dalam hati.
“Hai juga.” ramah Yunda, ia kini mendapati raut muka Zion yang tanpa ekspresi. Yunda pun berinisiatif menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajah Zion. “Helooooo…..” sapanya lagi, yang kini mendapat respon kaget dari Zion.
“Eh.. maaf-maaf.” cengir Zion salah tingkah. Yunda hanya tertawa ringan melihat tingkah Zion.
“Ya sudah duduk gih.” tawar Yunda “Mau baca?” lanjut Yunda.
“Enggak kok, aku…. aku…..” Zion mulai gugup. Ekspresi Yunda kini tampak bingung “Aku mau ngomong sesuatu ke kamu.” tambahnya lagi.
“Disini?” tanya Yunda.
“Iya.” sahutnya mantab.
“Oh, mau ngomong apa?” Zion pun terdiam sejenak. Ia masih sibuk menyusun kata-kata yang akan dilontarkan selanjutnya. Ia pun menarik nafas guna menenangkan perasaannya.
“Jujur sejak kenal kamu aku jadi termotivasi Nda, kamu selalu menginspirasi aku, dan aku baru menyadari kalau aku sebenarnya………” Zion menggantung ucapannya, dengan sekali tarikan nafas ia melanjutkan perkataannya.
“Aku sayang kamu Nda, aku ingin kamu mengisi separuh ruang dihati aku, Aku ingin selalu berada disamping kamu, disaat kamu sedih atau senang.” Yunda pun hanya diam terpaku mendengarkan perkataan Zion barusan. Ia bingung dengan perasaannya. Disisi lain ia lega karena perasaan yang dimilikinya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi disisi lain ia tidak mau mengecewakan orang tuanya karena keputusannya untuk membina pertemanan yang lebih dekat dengan Zion. Dia tahu kedua orang tuannya menaruh harapan besar padanya agar menjadi seorang anak berprestasi dan mampu mengharumkan nama orang tua. Jadi untuk kali ini Yunda harus berfikir dua kali untuk mengambil keputusan. Sampai akhirnya dia yakin dengan keputusannya bahwa ia harus rajin belajar dahulu agar ia bisa maraih sukses dikemudian hari.
“Maaf Zi, aku tidak bisa.” ucap Yunda kemudian “Aku belum siap, mungkin bukan sekarang saatnya tapi nanti usai kita meraih sukses kita masing-masing” tambah Yunda meyakinkan Zion yang sekarang terlihat muram. Dan tak lama akhirnya Zion pun menyunggingkan seulas senyum untuk Yunda.
“Iya, aku tahu kok, ya sudah aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja kok.” seulas senyum kembali menghiasi bibir Zion. “Tapi aku akan selalu sayang sama kamu Nda, sampai kapan pun.” bisik Zion tepat ditelinga Yunda, ia pun kemudian beranjak meninggalkan Yunda yang kini terdiam usai mendengarkan ucapannya.
            Sang surya siang ini cukup memancarkann panas yang terik. Hingga rumput-rumput hijaupun terlihat gersang karena pancaran panasnya. Terlihat jelas peluh telah bercucuran dari pelipis Yunda. Terang saja, mengayuh sepeda sampai rumah dengan jarak 25 Km. Tapi baginya perjalanan pulang kali ini terasa begitu cepat. Pikir Yunda seterik apapun panas matahari siang ini tak seterik rasa senang yang bersemayam dihatinya.
            Sampai dirumah Yunda langsung mengganti seragam dengan baju biasa. Selanjutnya ia beralih ke dapur untuk membantu pekerjaan sang ibu. Diambilnya sebuah celemek yang berada digantungan dekat meja makan. Yundapun sekarang mendekati sang ibu yang sedang mengirisi wortel untuk bahan makan siang.
“Sudah pulang, nduk?” tanya ibu melihat putrinya ikut mengirisi wortel sekarang.
“Sudah Bu, baru saja.” jawab Yunda tanpa mengalihkan perhatiannya dari wortel yang ada di tangannya.
“Ngomong-ngomong kapan Ujian Nasional mu, Nduk?” Tanya ibu lagi.
“Sekitar bulan April, Bu.”
“Oh, tiga bulan lagi no?” ujar ibu memastikan. Yunda menjawabnya hanya dengan anggukan.
“Belajar yang rajin, buat bangga kedua orang tua mu, tunjukan kepada dunia walau ibu hanya seorang penjual gorengan dan ayahmu seorang kuli bangunan, tetapi anaknya bisa mengharumkan nama orang tuannya.” nasehat ibu yang berhasil membuat putri kesayangannya terharu. Yunda kemudian memeluk sang ibu.
“Yunda tidak janji Bu, tapi Yunda akan berusaha memberikan yang terbaik untuk ayah dan ibu” Yundapun mencium pipi kanan ibunya. Keduanya pun hanyut dalam suasana yang diciptakan oleh seorang ibu dengan putrinya. Tidak disadari keduannya, sedari tadi ada seorang pria yang menyaksikan adegan mereka dari ambang pintu dapur. “Ayah !!” seru Yunda melihat Ayahnya yang berdiri di ammbang pintu. Ayah pun mendekati putrinya dan mencium kening Yunda. Ibu hanya tersenyum melihat sosok suaminya.
“Sudah pulang, Mas?” tanya ibu kemudian.
“Belum,ini tadi hanya mau ambil palu kok.” jawab ayah. Ibu pun kemudian mengambil segelas air untuk ayah. Ayah pun langsung meneguknnya dengan sekali minum.
“Widiiihhh ayah haus apa doyan tuh??hehehe.” canda Yunda. Ayah hanya tersenyum mendengar ocehan putrinnya.
“Ya sudah, ayah pamit kerja dulu ya.. ini sudah ditunggu teman ayah.” ucap ayah beranjak bangkit dan mengambil sebuah palu didekat rak piring.
“Iya.. hati-hati.” seru Yunda dan ibu hampir bersamaan. Seusai ayah pergi, Yunda dan ibu pun melanjutkan pekerjaannya.
            Detik demi detikpun berlalu tak terasa Ujian Nasional telah didepan mata. Minggu lalu Yunda dan kawan–kawan kelas IX telah melaksanakan yang namanya Ujian Praktek dan Ujian Tulis, dan kini tiba saatnya Yunda harus berjuang keras demi kelulusan dengan prestasi yang memuaskan. Ia harus benar–benar serius dalam belajar, ia telah bertekad bahwa ia harus berprestasi dengan baik tahun ini. Hari ini dalah hari pertama Ujian Nasional. Dengan hati yang tenang Yunda menghitamkan satu persatu jawaban pada LJK nya. Waktupun habis dengan langkah mantab ia menyerahkan lambar jawaban kepada pengawas. Yunda melihat Rara dan tersenyum, seolah berkata ‘SUKSES’. Empat hari yang menegangkan telah dilalui Yunda dan teman-teman seangkatannya. Kini tinggal menunggu bagaimana hasilnnya nanti, memuaskan atau bahkan sebaliknya.
            Usai Ujian Nasional kini Yunda menajak Rara untuk semakin mempertebal imannya dengan melaksanakan puasa senin kamis, dan rajin sholat berjamaah di masjid. Memanjatkan do’a agar mendapatkan nilai yang memuaskan untuk kelulusan nanti. Pada akhirnya hari pengumuman hasil Ujian Nasional pun tiba. Betapa terkejutnya Yunda ketika tahu bahwa nilai Ujiannya merupakan nilai tertinggi di sekolahnnya dan bahkan menduduki posisi peringkat tiga se-Provinsi Jawa Timur. Sedangkan Rara mendapat peringkat 5 di sekolahannya. Rarapun juga turut bangga melihat sahabatnya sukses meraih apa yang dicita-citakannya selama ini. Senyum kebahagiaan tak henti-hentinnya menghiasi setiap lekuk wajah Yunda. Bagaimana dengan Zion? teryata ia menduduki peringkat 9 nilai tertinggi Ujian Nasional di sekolahnya. Betapa bahagiannya hati Yunda, karena Tuhan telah mendengarkan apa yang diharapkannya selama ini. Dan betapa bahagiannya jika orang tuanya tahu tentang hal ini. Ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan Rara., tiba-tiba Zion menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
“Heh Ra, itu… anu…hoosh..hosh..hosh..” ucap Zion gelagapan. Rara dan Yunda hanya mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
“Tarik nafas pelan-pelan Zi, baru ngomong” ujar Rara diikuti anggukan dari Yunda. Zion pun mengikuti nasehat Rara.
“Huuuftthh….. itu Nda, kata Kepsek kamu mau dapat beasiswa dari walikota Surabaya dan pengambilannya besok” terang Zion yang berhasil membuat Yunda melongo.
“Kamu enggak bercanda kan Zi??” ucap Yunda tak percaya.
“Suwer deh..” tambahnya.
“Huaaaa.. Rara….” histeris Yunda memeluk sahabatnya itu “Alhamdulilah, terima kasih Tuhan…” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Zion dan Rara pun juga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya yang satu ini.
            Lima hari berlalu usai penerimaan beasiswa Yunda. Masih terbayang jelas dimata Yunda saat ayah dan ibu mendampinginya untuk penerimaan beasiswa. Masih teringat pula betapa hangat pelukan seorang ibu yang bangga kepada putrinya, dan betapa manis senyuman bahagia seorang ayah yang menyaksikan keberhasilan anak yang dibanggakannya. “Semua itu tak lepas dari do’a kalian, Yunda sayang ayah dan ibu !!” ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia pun kini beralih menatap teman-temannya yang sedang melakukan upacara penyematan mendali kelulusan. Ya, hari ini adalah purnawiyata anak-anak kelas IX. Tak heran semua siswa kelas IX mengenakan pakaian resmi. Dengan siswa putri mengenakan kebaya dan putra mengenakan jas lengkap dengan atribut-atributnya. Pagi ini Yunda tampil anggun dengan kebaya merah hati dilengkapi kilauan manik-manik yang terkena sinar matahari. Sedangkan Rara mengenakan kebaya hijau tua dengan motif renda-renda ditepiannya.
“Gak kerasa ya, kita udah mau pisah” ucap Rara dengan ekspresi sedih.
“Iya kamu benar, tapi papatah aja bilang kalau dimana ada pertemuan pasti akan berujung perpisahan, iya kan?” sahut Yunda bijak. Rarapun hanya tersenyum pahit.
“Hei…” sapa Zion yang kini berada tepat disamping Yunda.
“Hei juga..” jawab Rara sambil menggoyangkan pergelangan tangannya. Yunda yang kaget dengan kedatangan Zion hanya tersenyum tipis.
“Nda, aku boleh ngomong berdua sama kamu?” ujar Zion tanpa basa-basi, terlihat jelas ekspresi muka Yunda yang kini tampak kebingungan.
“Icikk-icikk ehemm, aku kesana bentar ya..” tunjuk Rara kearah etalase dan beranjak meninggalkan Yunda dan Zion.
“Eh..eh… mau kemana Ra?” Tanya Yunda mencegah Rara pergi.
“Auss...hehehe.” cengir Rara sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Ya sudah, deh.” pasrah Yunda. Hatinya kini bergetar tak karuan saat berada disamping Zion, ia sekarang bingung. Bingung dan bingung yang hanya berputar di otak Yunda sekarang.
“Nda??” panggil Zion mencairkan suasana.
“Iya??” sahutnya dengan menoleh kearah Zion. Dengan langkah 45 Zion langsung menyambar kedua tangan Yunda. Yunda pun sempat terlonjak kaget ketika tangannya telah berpegangan dengan kedua tangan Zion.
“Nda, maaf kalau aku lancang, aku enggak bermaksud jahat ke kamu, aku cuma pengen tahu jawaban kamu tentang pertanyaanku yang dulu.” ucap Zion dengan sekali tarikan nafas.
“Aku.. aku……” jawab Yunda gugup. Jari telunjuk Zion pun langsung mendarat dibibir manis Yunda.
“Ssssttttt tenang, apapun jawaban kamu aku pasti akan terima kok.” ucapnya lembut. Yunda pun hanya mengangguk.
“Jadi, apa jawabannya??” tanyanya lagi. Yunda masih terdiam. Zion pun menundukan kepala seolah telah putus asa, ia pun kemudian mengambil sesuatu yang ada disaku jasnya. Boneka twitty mungilpun keluar dari saku Zion.
“Begini saja, kalau kamu terima aku kamu harus ambil boneka ini dan kalau kamu enggak menerima aku, kamu boleh buang boneka ini.” terang Zion kemudian. Kali ini entah apa yang dirasakan Yunda, hatinya serasa meyakinkan bahwa orang yang berada dihadapannya kini adalah orang yang tepat bagi hidupnya. Yunda pun tersenyum dan lalu mengambil boneka yang ada ditangan Zion. ia lalu menaruh boneka itu disamping tempat duduknya. Zion yang tadi mengira bahwa Yunda telah menerimanya kini dengan gontai menundukkan kepala. Yunda pun tersenyum melihat ekspresi orang yang ada didepannya ini. Dengan langkah sigap ia mengangkat dagu Zion, ia pun menyuggingkan seulas senyum manis.
“Aku sayang kamu.” tiga kata terlontar dari bibir manis Yunda “Twitty nya buat aku ya?? makasihhh” lanjut Yunda kemudian. Zion yang tadinya melongo dengan apa yang dilakukan Yunda barusan langsung memeluk Yunda. Pipi Yunda langsung bersemu merah melihat berpasang-pasang mata menatapnya.
“Hei, malu tahu dilihatin anak-anak.” Zion pun melepaskan pelukannya dan menggaruk kepala yang tidak gatal. “hehehe reflek..” cengirnya.

-SEKIAN-

2 komentar:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ