Minggu, 30 Desember 2012

Making The Parents Pround Before Love #1



Making The Parents Pround Before Love
            Pagi ini sang surya masih enggan terbit dari peraduannya. Anginpun menghembuskan hawa dingin seusai hujan deras tadi malam. Titik-titik air masih melekat erat pada dedaunan hijau dipekarangan rumah Yunda. Gadis jangkung bertubuh semampai dengan paras wajah manis dan berdagu tirus ini bernama lengkap Ayunda Prasetia. Sederhana,tapi mengandung makna yang cukup indah. Orang-orang akrab memanggilnya Yunda.
            Hawa dingin masih menusuk tulang saat sang pemilik kamar belum terbangun dari bungan tidurnya. Ia menggeliat kecil ketika hawa dingin mulai menyelimuti.
“Huaah…..” gumamnya pelan mengucek-ucek matanya dengan punggung tangan. Ia kemudian membiarkan tubuhnya duduk ditepi ranjang terlebih dahulu untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawanya sebelum ia beranjak untuk mandi. Diliriknya jam beker diatas meja
“Masih pukul 05.00 ternyata.” ucap Yunda dalam hati. Sekian detik berikutnya yunda mulai merapikan tempat tidur. Usai tarik sana tarik sini ranjangpun telah rapi. Yunda lalu beranjak melaksanakan ibadah sholat subuh yang belum dikerjakannya. 20 menit kemudian ia telah siap dengan seragam khas anak SMP putih biru yang dilengan kirinya tertera bet logo sekolahnya “SMP CAKRAWALA” begitulah tulisan yang tertera. Sekolah yang dibilang cukup tersohor di kota Surabaya ini memang bisa dikatakan sekolah orang berpunya. Sekolah yang biasanya hanya anak-anak dari orang kalangan atas yang bisa masuk. Tapi tidak untuk Yunda, masih melekat jelas di memori otaknya saat dulu ayah dan ibu tidak punya uang untuk biaya daftar ulang sekolahnya. Ayah maupun sang ibu bingung bagaimana mendapatkan biaya untuk hal tersebut. Akhirnya mereka terpaksa hutang sana hutang sini, apapun rela dilakukan orang tua Yunda asal putrid semata wayangnya bisa melanjutkan sekolah dijenjang yang lebih tinggi. Tak terasa buliran air mata jatuh dari mata bening Yunda ketika ia melihat sang ibu sibuk memasukan adonan pisang goreng kedalam wajan berisi minnyak panas. Yundapun menyeka air matanya dan mulai berjalan mendekati sang ibu.
“Yunda bantu ya, Bu..” tawarnya memegang spatula dan mulai membalik pisang goreng yang sudah mulai kecoklatan.
“Sudah..sudah.. tidak usah nanti bajumu kotor nduk…. Sudah cepat berangkat sekolah sana.” ujar ibu mengambil alih pekerjaan Yunda.
“Ah ibu, kan ini masih jam 06.15.” elak Yunda mengambil spatula yang ada di tangan ibunya lagi
“Dasar bocah.” gumam ibu yang kini mengambil nampan untuk tempat pisang goreng yang sudah matang.
“Ayah sudah berangkat ya, Bu?” tanya Yunda
“Sudah tadi sekitar pukul 06.00. emangnya ada apa?”
“Enggak kok Bu, Yunda Cuma Tanya.hehe ya sudah Yunda pamit berangkat dulu ya. ” ucapnya sembari mencium punggung tangan sang ibu.
“Iya..hati-hati dijalan.”
“Sippp Bu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Ibupun melanjutkn pekerjaannya. Sempat terlintas bayangan sang suami ketika melihat paras ayu putrid semata wayangnya. Suami yang bekerja keras demi anak dan istri. Suami yang selalu sabar menghadapi segala cobaan hidup bersamanya. “Doaku selalu menyertaimu mas.” ucap ibu dalam hati dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
            Jarak rumah sampai SMP CAKRAWALA sekitar 10 Km. Perjalanan kesana dibutuhkan waktu sekitar 25 menit dengan mengendarai sepeda. Begitulah keseharian Yunda. Apapun dijalaninya asal ia bisa sekolah. Karna ia tahu bahwa diluar sana masih banyak anak-anak seumurannya yang tidak seberuntung dirinya. Usai memarkirkan sepeda ia pun berjalan menyusuri koridor sekolah. Suasana sudah agak ramai karena 10 menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Mengingat hari ini adalah hari pertama masuk sekolah usai liburan kenaikan kelas kemarin banyak wajah-wajah yang kurang familiar bagi Yunda. Terang saja, hari ini adalah hari pertama pula ia bergelar sebagai anak kelas IX. Senyuman ramah tak henti-hentinya melekat dibibir mungil Yunda. Sebelum sampai diambang pintu kelas ia melambatkan langkah untuk merapikan kembali dasinya, karena tidak melihat depan ia pun menabrak seseoranag. Bukkkkh…. Keduanya pun jatuh.
“Eh maaf-maaf nggak sengaja.” ucap Yunda bangkit mengambil buku-buku orang itu.
“Nggakpapa kok, lagi pula aku juga yang ceroboh gak lihat-lihat jalan.” orang itupun bangkit diikuti oleh Yunda. “O iya, kamu Yunda kan?anak kelas ini?” tanya pemuda itu
“Hehe iya, pasti kamu Zion anak kelas IXF.” tebak Yunda to the point.
“Kok tau?”
“Yaiyalah, siapa sih yang enggak kenal kamu? kamukan kapten basket Cakra.”
“Ah kamu ini, ya sudah duluan ya.Bey..” ucap Zion menghentikan pembicaraan karena bel masuk sudah berdentang.
“Bey.” seru Yunda dan beranjak masuk kelas.
            Suasana kelas sudah cukup riuh saat Yunda meletakan tas ranselnya disamping meja Rara. Rara adalah sahabat karib Yunda.
“Ecieeeeee yang tabrakan sama Zion.” ejek Rara yang berhasil membuat pipi yunda bersemu merah. Yunda pun mulai manyun.
“Ih Rara kan Cuma teman orang, ngobrol aja enggak pernah kok, baru kali ini.” Belanya
“Kalau Cuma kali ini, kenapa tuh pipi merah hayooo???” desak Rara yang enggak mau kalah. Sedangkan yang diejek malah tambah manyun, “Katanya, aku denger Zion itu naksir kamu lho, Nda.” bisik Rara ditelinga sahabatnya itu. Ia pun berhasil mendapat toyoran gratis dari Yunda.
“Ngawur kamu.”
“Aduh..yeee malah noyor.huhu.” Rara berpura-pura ngambek.
“Heh udah enggak boleh pacaran dulu, belajar yang rajin dulu neng.” nasehat Yunda. Bersamaan dengan itu sang guru mata pelajaran telah tiba. Rara yang tadinya akan menjawab ocehan Yunda mulai mengurungkan niatnya. Yunda pun tersenyum penuh dengan kemenangan.
            Pelajaran hari ini dilalui Yunda dengan hati yang ceria entah gerangan apa yang terjadi. Kringgggg….. Bel istirahatpun berdentang nyaring. Semua penghuni kelas berhamburan keluar bak burung yang lepas dari sangkarnya. Rara dan Yunda memilih pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Tak disangka-sangka meja dikantin telah penuh dengan lautan manusia.
“Aduh full people nih, Nda.” panik Rara.
“Hahay iya nih Bu guru Inggris.” cengir Yunda. Rara yang diejek cuma tersenyum kecut. Yunda.. Yunda….!! Teriak seseorang. Yunda pun menoleh kesumber suara diikuti oleh Rara.
“Sini saja, ini masih ada bangku kosong kok.” tambah orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zion. Yunda pun membalasnya dengan senyuman dan kembali menengok Rara seolah berkata ‘Bagaimana?’ Rara langsung tanggap dengan tatapan Yunda. Iapun menarik lengan Yunda untuk melangkah menuju tempat duduk Zion. Ssrrrrr seketika Yunda merasakan darahnya berdesir, jantungnya berdetak tak beraturan ‘apa ini?’ gumamnya dalam hati ‘enggak.. enggak.. ini tidak boleh’ elaknya. Dirasanya telah terjadi gejolak batin yang belum pernah ia rasakan ‘apa mungkin ini Cinta? Cinta pada pandangan pertama mungkin? Enggak.. enggakk.. ini tidak boleh..Yunda enggak boleh jatuh cinta sebelum yunda membanggakan ayah dan ibu’ tak disadari Yunda menggelengkan kepalanya cukup keras. Rara yang berada disampingnya pun jadi heran
“Nda, kamu enggak apa-apa kan?” tanyanya khawatir.
“Iya.. kamu sakit to??” tambah Zion. Yunda hanya nyengir
“Hehe..enggak apa-apa kok cuma olahraga kepala, sudah ayo makan.” Yunda pun mengambil semangkok bakso dan langsung melahapnya tanpa melihat raut muka Rara dan Zion yang kebingungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ