Making
The Parents Pround Before Love
Pagi ini sang surya masih enggan
terbit dari peraduannya. Anginpun menghembuskan hawa dingin seusai hujan deras
tadi malam. Titik-titik air masih melekat erat pada dedaunan hijau dipekarangan
rumah Yunda. Gadis jangkung bertubuh semampai dengan paras wajah manis dan
berdagu tirus ini bernama lengkap Ayunda Prasetia. Sederhana,tapi mengandung
makna yang cukup indah. Orang-orang akrab memanggilnya Yunda.
Hawa dingin masih menusuk tulang
saat sang pemilik kamar belum terbangun dari bungan tidurnya. Ia menggeliat
kecil ketika hawa dingin mulai menyelimuti.
“Huaah…..”
gumamnya pelan mengucek-ucek matanya dengan punggung tangan. Ia kemudian
membiarkan tubuhnya duduk ditepi ranjang terlebih dahulu untuk mengumpulkan
sisa-sisa nyawanya sebelum ia beranjak untuk mandi. Diliriknya jam beker diatas
meja
“Masih
pukul 05.00 ternyata.” ucap Yunda dalam hati. Sekian detik berikutnya yunda
mulai merapikan tempat tidur. Usai tarik sana tarik sini ranjangpun telah rapi.
Yunda lalu beranjak melaksanakan ibadah sholat subuh yang belum dikerjakannya.
20 menit kemudian ia telah siap dengan seragam khas anak SMP putih biru yang
dilengan kirinya tertera bet logo sekolahnya “SMP CAKRAWALA” begitulah tulisan
yang tertera. Sekolah yang dibilang cukup tersohor di kota Surabaya ini memang
bisa dikatakan sekolah orang berpunya. Sekolah yang biasanya hanya anak-anak
dari orang kalangan atas yang bisa masuk. Tapi tidak untuk Yunda, masih melekat
jelas di memori otaknya saat dulu ayah dan ibu tidak punya uang untuk biaya
daftar ulang sekolahnya. Ayah maupun sang ibu bingung bagaimana mendapatkan
biaya untuk hal tersebut. Akhirnya mereka terpaksa hutang sana hutang sini,
apapun rela dilakukan orang tua Yunda asal putrid semata wayangnya bisa
melanjutkan sekolah dijenjang yang lebih tinggi. Tak terasa buliran air mata
jatuh dari mata bening Yunda ketika ia melihat sang ibu sibuk memasukan adonan
pisang goreng kedalam wajan berisi minnyak panas. Yundapun menyeka air matanya
dan mulai berjalan mendekati sang ibu.
“Yunda
bantu ya, Bu..” tawarnya memegang spatula dan mulai membalik pisang goreng yang
sudah mulai kecoklatan.
“Sudah..sudah..
tidak usah nanti bajumu kotor nduk…. Sudah cepat berangkat sekolah sana.” ujar
ibu mengambil alih pekerjaan Yunda.
“Ah
ibu, kan ini masih jam 06.15.” elak Yunda mengambil spatula yang ada di tangan
ibunya lagi
“Dasar
bocah.” gumam ibu yang kini mengambil nampan untuk tempat pisang goreng yang
sudah matang.
“Ayah
sudah berangkat ya, Bu?” tanya Yunda
“Sudah
tadi sekitar pukul 06.00. emangnya ada apa?”
“Enggak
kok Bu, Yunda Cuma Tanya.hehe ya sudah Yunda pamit berangkat dulu ya. ” ucapnya
sembari mencium punggung tangan sang ibu.
“Iya..hati-hati
dijalan.”
“Sippp
Bu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ibupun melanjutkn pekerjaannya. Sempat terlintas bayangan sang suami ketika
melihat paras ayu putrid semata wayangnya. Suami yang bekerja keras demi anak
dan istri. Suami yang selalu sabar menghadapi segala cobaan hidup bersamanya.
“Doaku selalu menyertaimu mas.” ucap ibu dalam hati dan kembali melanjutkan
pekerjaannya.
Jarak rumah sampai SMP CAKRAWALA
sekitar 10 Km. Perjalanan kesana dibutuhkan waktu sekitar 25 menit dengan
mengendarai sepeda. Begitulah keseharian Yunda. Apapun dijalaninya asal ia bisa
sekolah. Karna ia tahu bahwa diluar sana masih banyak anak-anak seumurannya
yang tidak seberuntung dirinya. Usai memarkirkan sepeda ia pun berjalan
menyusuri koridor sekolah. Suasana sudah agak ramai karena 10 menit lagi bel
masuk akan segera berbunyi. Mengingat hari ini adalah hari pertama masuk
sekolah usai liburan kenaikan kelas kemarin banyak wajah-wajah yang kurang
familiar bagi Yunda. Terang saja, hari ini adalah hari pertama pula ia bergelar
sebagai anak kelas IX. Senyuman ramah tak henti-hentinya melekat dibibir mungil
Yunda. Sebelum sampai diambang pintu kelas ia melambatkan langkah untuk
merapikan kembali dasinya, karena tidak melihat depan ia pun menabrak
seseoranag. Bukkkkh…. Keduanya pun jatuh.
“Eh
maaf-maaf nggak sengaja.” ucap Yunda bangkit mengambil buku-buku orang itu.
“Nggakpapa
kok, lagi pula aku juga yang ceroboh gak lihat-lihat jalan.” orang itupun
bangkit diikuti oleh Yunda. “O iya, kamu Yunda kan?anak kelas ini?” tanya
pemuda itu
“Hehe
iya, pasti kamu Zion anak kelas IXF.” tebak Yunda to the point.
“Kok
tau?”
“Yaiyalah,
siapa sih yang enggak kenal kamu? kamukan kapten basket Cakra.”
“Ah
kamu ini, ya sudah duluan ya.Bey..” ucap Zion menghentikan pembicaraan karena
bel masuk sudah berdentang.
“Bey.”
seru Yunda dan beranjak masuk kelas.
Suasana kelas sudah cukup riuh saat
Yunda meletakan tas ranselnya disamping meja Rara. Rara adalah sahabat karib
Yunda.
“Ecieeeeee
yang tabrakan sama Zion.” ejek Rara yang berhasil membuat pipi yunda bersemu
merah. Yunda pun mulai manyun.
“Ih
Rara kan Cuma teman orang, ngobrol aja enggak pernah kok, baru kali ini.”
Belanya
“Kalau
Cuma kali ini, kenapa tuh pipi merah hayooo???” desak Rara yang enggak mau
kalah. Sedangkan yang diejek malah tambah manyun, “Katanya, aku denger Zion itu
naksir kamu lho, Nda.” bisik Rara ditelinga sahabatnya itu. Ia pun berhasil
mendapat toyoran gratis dari Yunda.
“Ngawur
kamu.”
“Aduh..yeee
malah noyor.huhu.” Rara berpura-pura ngambek.
“Heh
udah enggak boleh pacaran dulu, belajar yang rajin dulu neng.” nasehat Yunda.
Bersamaan dengan itu sang guru mata pelajaran telah tiba. Rara yang tadinya
akan menjawab ocehan Yunda mulai mengurungkan niatnya. Yunda pun tersenyum
penuh dengan kemenangan.
Pelajaran hari ini dilalui Yunda
dengan hati yang ceria entah gerangan apa yang terjadi. Kringgggg….. Bel
istirahatpun berdentang nyaring. Semua penghuni kelas berhamburan keluar bak
burung yang lepas dari sangkarnya. Rara dan Yunda memilih pergi ke kantin untuk
mengisi perut mereka. Tak disangka-sangka meja dikantin telah penuh dengan
lautan manusia.
“Aduh
full people nih, Nda.” panik Rara.
“Hahay
iya nih Bu guru Inggris.” cengir Yunda. Rara yang diejek cuma tersenyum kecut.
Yunda.. Yunda….!! Teriak seseorang. Yunda pun menoleh kesumber suara diikuti
oleh Rara.
“Sini
saja, ini masih ada bangku kosong kok.” tambah orang itu yang tak lain dan tak
bukan adalah Zion. Yunda pun membalasnya dengan senyuman dan kembali menengok
Rara seolah berkata ‘Bagaimana?’ Rara langsung tanggap dengan tatapan Yunda.
Iapun menarik lengan Yunda untuk melangkah menuju tempat duduk Zion. Ssrrrrr
seketika Yunda merasakan darahnya berdesir, jantungnya berdetak tak beraturan
‘apa ini?’ gumamnya dalam hati ‘enggak.. enggak.. ini tidak boleh’ elaknya.
Dirasanya telah terjadi gejolak batin yang belum pernah ia rasakan ‘apa mungkin
ini Cinta? Cinta pada pandangan pertama mungkin? Enggak.. enggakk.. ini tidak
boleh..Yunda enggak boleh jatuh cinta sebelum yunda membanggakan ayah dan ibu’
tak disadari Yunda menggelengkan kepalanya cukup keras. Rara yang berada
disampingnya pun jadi heran
“Nda,
kamu enggak apa-apa kan?” tanyanya khawatir.
“Iya..
kamu sakit to??” tambah Zion. Yunda hanya nyengir
“Hehe..enggak
apa-apa kok cuma olahraga kepala, sudah ayo makan.” Yunda pun mengambil
semangkok bakso dan langsung melahapnya tanpa melihat raut muka Rara dan Zion
yang kebingungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ