Hari demi hari telah terlalui, tak
terasa sudah hampir satu bulan Yunda dekat dengan Zion usai insiden makan satu
meja bulan lalu. Tak disadari diam-diam Zion telah memendam rasa kapada Yunda.
Baginya Yunda telah memotivasi dirinya untuk menjadi sosok yang tegar dalam
menjalani hidup. Yundalah yang mengajarinya tentang arti sebuah keiklasan yang
belum pernah ia dapatkan dari orang lain. Dan pada hari ini ia bertekat akan
mengutarakan parasaannya kepada Yunda. Entah apapun jawaban Yunda nanti, ia akan
berusaha menerima dengan lapang dada.
Jam istirahat telah berdentang.
Suasana kelas Zion kali ini sudah riuh dengan suara-suara siswa yang tak sabar
menghirup udara diluar kelas. Sesuai dengan hati Zion kali ini, ia buru-buru
keluar kelas untuk bertemu dengan Yunda. Langkah kakinya kini telah berhenti
didepan kelas Yunda. Hatinya bergetar tak karuan, dengan sekali tarikan nafas
ia pun masuk. Didapatinya Rara sang sahabat dekat Yunda sedang duduk dengan
memegang sebuah novel.
“Ra,
Yundanya mana?” tanya Zion to the point. Rarapun mengalihkan perhatiannya pada
Zion dan mulai menyunggingkan seulas senyum jail.
“Hayoo
mau ngapain?” sergah Rara.
“Ayolah
Ra, Yundanya dimana?” tanya Zion tak sabar, Rara hanya nyengir.
“Yundanya
lagi di perpustakaan, tadi dia disuruh Pak Koesno cari bahan buwat tugas IPS.”
terang Yunda.
“Ya
sudah aku kesana dulu ya..Bay Ra.” ucap Zion mulai berjalan meninggalkan Rara.
“Bay.”
Rara pun kembali sibuk dengan novelnya.
Dengan langkah terburu-buru ia
menuju ruang perpustakaan. Sesampainnya didepa ruang perpus kembali Zion
menarik nafas dan menghembuskannya secara pelan lagi. Matanya kini sibuk
menelusuri setiap tempat yang ada di perpustakaan itu. Sampai akhirnya ia
menemukan manusia yang dicarinya sejak tadi. Ia pun melangkah mendekati Yunda
“Hai
!!” sapanya, Yundapun menoleh dengan seulas senyum dibibirnya. ‘Subhanallah… manisnya’
gumam Zion dalam hati.
“Hai
juga.” ramah Yunda, ia kini mendapati raut muka Zion yang tanpa ekspresi. Yunda
pun berinisiatif menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajah Zion.
“Helooooo…..” sapanya lagi, yang kini mendapat respon kaget dari Zion.
“Eh..
maaf-maaf.” cengir Zion salah tingkah. Yunda hanya tertawa ringan melihat
tingkah Zion.
“Ya
sudah duduk gih.” tawar Yunda “Mau baca?” lanjut Yunda.
“Enggak
kok, aku…. aku…..” Zion mulai gugup. Ekspresi Yunda kini tampak bingung “Aku mau
ngomong sesuatu ke kamu.” tambahnya lagi.
“Disini?”
tanya Yunda.
“Iya.”
sahutnya mantab.
“Oh,
mau ngomong apa?” Zion pun terdiam sejenak. Ia masih sibuk menyusun kata-kata
yang akan dilontarkan selanjutnya. Ia pun menarik nafas guna menenangkan
perasaannya.
“Jujur
sejak kenal kamu aku jadi termotivasi Nda, kamu selalu menginspirasi aku, dan
aku baru menyadari kalau aku sebenarnya………” Zion menggantung ucapannya, dengan
sekali tarikan nafas ia melanjutkan perkataannya.
“Aku
sayang kamu Nda, aku ingin kamu mengisi separuh ruang dihati aku, Aku ingin
selalu berada disamping kamu, disaat kamu sedih atau senang.” Yunda pun hanya
diam terpaku mendengarkan perkataan Zion barusan. Ia bingung dengan
perasaannya. Disisi lain ia lega karena perasaan yang dimilikinya selama ini
tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi disisi lain ia tidak mau mengecewakan orang
tuanya karena keputusannya untuk membina pertemanan yang lebih dekat dengan
Zion. Dia tahu kedua orang tuannya menaruh harapan besar padanya agar menjadi
seorang anak berprestasi dan mampu mengharumkan nama orang tua. Jadi untuk kali
ini Yunda harus berfikir dua kali untuk mengambil keputusan. Sampai akhirnya
dia yakin dengan keputusannya bahwa ia harus rajin belajar dahulu agar ia bisa
maraih sukses dikemudian hari.
“Maaf
Zi, aku tidak bisa.” ucap Yunda kemudian “Aku belum siap, mungkin bukan
sekarang saatnya tapi nanti usai kita meraih sukses kita masing-masing” tambah
Yunda meyakinkan Zion yang sekarang terlihat muram. Dan tak lama akhirnya Zion
pun menyunggingkan seulas senyum untuk Yunda.
“Iya,
aku tahu kok, ya sudah aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja kok.”
seulas senyum kembali menghiasi bibir Zion. “Tapi aku akan selalu sayang sama
kamu Nda, sampai kapan pun.” bisik Zion tepat ditelinga Yunda, ia pun kemudian
beranjak meninggalkan Yunda yang kini terdiam usai mendengarkan ucapannya.
Sang surya siang ini cukup
memancarkann panas yang terik. Hingga rumput-rumput hijaupun terlihat gersang
karena pancaran panasnya. Terlihat jelas peluh telah bercucuran dari pelipis
Yunda. Terang saja, mengayuh sepeda sampai rumah dengan jarak 25 Km. Tapi
baginya perjalanan pulang kali ini terasa begitu cepat. Pikir Yunda seterik
apapun panas matahari siang ini tak seterik rasa senang yang bersemayam
dihatinya.
Sampai dirumah Yunda langsung
mengganti seragam dengan baju biasa. Selanjutnya ia beralih ke dapur untuk
membantu pekerjaan sang ibu. Diambilnya sebuah celemek yang berada digantungan
dekat meja makan. Yundapun sekarang mendekati sang ibu yang sedang mengirisi wortel
untuk bahan makan siang.
“Sudah
pulang, nduk?” tanya ibu melihat putrinya ikut mengirisi wortel sekarang.
“Sudah
Bu, baru saja.” jawab Yunda tanpa mengalihkan perhatiannya dari wortel yang ada
di tangannya.
“Ngomong-ngomong
kapan Ujian Nasional mu, Nduk?” Tanya ibu lagi.
“Sekitar
bulan April, Bu.”
“Oh,
tiga bulan lagi no?” ujar ibu memastikan. Yunda menjawabnya hanya dengan
anggukan.
“Belajar
yang rajin, buat bangga kedua orang tua mu, tunjukan kepada dunia walau ibu
hanya seorang penjual gorengan dan ayahmu seorang kuli bangunan, tetapi anaknya
bisa mengharumkan nama orang tuannya.” nasehat ibu yang berhasil membuat putri
kesayangannya terharu. Yunda kemudian memeluk sang ibu.
“Yunda
tidak janji Bu, tapi Yunda akan berusaha memberikan yang terbaik untuk ayah dan
ibu” Yundapun mencium pipi kanan ibunya. Keduanya pun hanyut dalam suasana yang
diciptakan oleh seorang ibu dengan putrinya. Tidak disadari keduannya, sedari
tadi ada seorang pria yang menyaksikan adegan mereka dari ambang pintu dapur.
“Ayah !!” seru Yunda melihat Ayahnya yang berdiri di ammbang pintu. Ayah pun
mendekati putrinya dan mencium kening Yunda. Ibu hanya tersenyum melihat sosok
suaminya.
“Sudah
pulang, Mas?” tanya ibu kemudian.
“Belum,ini
tadi hanya mau ambil palu kok.” jawab ayah. Ibu pun kemudian mengambil segelas
air untuk ayah. Ayah pun langsung meneguknnya dengan sekali minum.
“Widiiihhh
ayah haus apa doyan tuh??hehehe.” canda Yunda. Ayah hanya tersenyum mendengar
ocehan putrinnya.
“Ya
sudah, ayah pamit kerja dulu ya.. ini sudah ditunggu teman ayah.” ucap ayah
beranjak bangkit dan mengambil sebuah palu didekat rak piring.
“Iya..
hati-hati.” seru Yunda dan ibu hampir bersamaan. Seusai ayah pergi, Yunda dan
ibu pun melanjutkan pekerjaannya.
Detik demi detikpun berlalu tak
terasa Ujian Nasional telah didepan mata. Minggu lalu Yunda dan kawan–kawan
kelas IX telah melaksanakan yang namanya Ujian Praktek dan Ujian Tulis, dan
kini tiba saatnya Yunda harus berjuang keras demi kelulusan dengan prestasi
yang memuaskan. Ia harus benar–benar serius dalam belajar, ia telah bertekad
bahwa ia harus berprestasi dengan baik tahun ini. Hari ini dalah hari pertama
Ujian Nasional. Dengan hati yang tenang Yunda menghitamkan satu persatu jawaban
pada LJK nya. Waktupun habis dengan langkah mantab ia menyerahkan lambar
jawaban kepada pengawas. Yunda melihat Rara dan tersenyum, seolah berkata
‘SUKSES’. Empat hari yang menegangkan telah dilalui Yunda dan teman-teman
seangkatannya. Kini tinggal menunggu bagaimana hasilnnya nanti, memuaskan atau
bahkan sebaliknya.
Usai Ujian Nasional kini Yunda
menajak Rara untuk semakin mempertebal imannya dengan melaksanakan puasa senin
kamis, dan rajin sholat berjamaah di masjid. Memanjatkan do’a agar mendapatkan
nilai yang memuaskan untuk kelulusan nanti. Pada akhirnya hari pengumuman hasil
Ujian Nasional pun tiba. Betapa terkejutnya Yunda ketika tahu bahwa nilai
Ujiannya merupakan nilai tertinggi di sekolahnnya dan bahkan menduduki posisi
peringkat tiga se-Provinsi Jawa Timur. Sedangkan Rara mendapat peringkat 5 di
sekolahannya. Rarapun juga turut bangga melihat sahabatnya sukses meraih apa
yang dicita-citakannya selama ini. Senyum kebahagiaan tak henti-hentinnya
menghiasi setiap lekuk wajah Yunda. Bagaimana dengan Zion? teryata ia menduduki
peringkat 9 nilai tertinggi Ujian Nasional di sekolahnya. Betapa bahagiannya
hati Yunda, karena Tuhan telah mendengarkan apa yang diharapkannya selama ini.
Dan betapa bahagiannya jika orang tuanya tahu tentang hal ini. Ketika sedang
asyik-asyiknya mengobrol dengan Rara., tiba-tiba Zion menghampirinya dengan
nafas terengah-engah.
“Heh
Ra, itu… anu…hoosh..hosh..hosh..” ucap Zion gelagapan. Rara dan Yunda hanya
mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
“Tarik
nafas pelan-pelan Zi, baru ngomong” ujar Rara diikuti anggukan dari Yunda. Zion
pun mengikuti nasehat Rara.
“Huuuftthh…..
itu Nda, kata Kepsek kamu mau dapat beasiswa dari walikota Surabaya dan
pengambilannya besok” terang Zion yang berhasil membuat Yunda melongo.
“Kamu
enggak bercanda kan Zi??” ucap Yunda tak percaya.
“Suwer
deh..” tambahnya.
“Huaaaa..
Rara….” histeris Yunda memeluk sahabatnya itu “Alhamdulilah, terima kasih
Tuhan…” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Zion dan Rara pun juga turut
merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya yang satu ini.
Lima hari berlalu usai penerimaan
beasiswa Yunda. Masih terbayang jelas dimata Yunda saat ayah dan ibu
mendampinginya untuk penerimaan beasiswa. Masih teringat pula betapa hangat
pelukan seorang ibu yang bangga kepada putrinya, dan betapa manis senyuman
bahagia seorang ayah yang menyaksikan keberhasilan anak yang dibanggakannya.
“Semua itu tak lepas dari do’a kalian, Yunda sayang ayah dan ibu !!” ujarnya
lirih dengan mata berkaca-kaca. Ia pun kini beralih menatap teman-temannya yang
sedang melakukan upacara penyematan mendali kelulusan. Ya, hari ini adalah
purnawiyata anak-anak kelas IX. Tak heran semua siswa kelas IX mengenakan
pakaian resmi. Dengan siswa putri mengenakan kebaya dan putra mengenakan jas
lengkap dengan atribut-atributnya. Pagi ini Yunda tampil anggun dengan kebaya
merah hati dilengkapi kilauan manik-manik yang terkena sinar matahari.
Sedangkan Rara mengenakan kebaya hijau tua dengan motif renda-renda ditepiannya.
“Gak
kerasa ya, kita udah mau pisah” ucap Rara dengan ekspresi sedih.
“Iya
kamu benar, tapi papatah aja bilang kalau dimana ada pertemuan pasti akan
berujung perpisahan, iya kan?” sahut Yunda bijak. Rarapun hanya tersenyum
pahit.
“Hei…”
sapa Zion yang kini berada tepat disamping Yunda.
“Hei
juga..” jawab Rara sambil menggoyangkan pergelangan tangannya. Yunda yang kaget
dengan kedatangan Zion hanya tersenyum tipis.
“Nda,
aku boleh ngomong berdua sama kamu?” ujar Zion tanpa basa-basi, terlihat jelas
ekspresi muka Yunda yang kini tampak kebingungan.
“Icikk-icikk
ehemm, aku kesana bentar ya..” tunjuk Rara kearah etalase dan beranjak
meninggalkan Yunda dan Zion.
“Eh..eh…
mau kemana Ra?” Tanya Yunda mencegah Rara pergi.
“Auss...hehehe.”
cengir Rara sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Ya
sudah, deh.” pasrah Yunda. Hatinya kini bergetar tak karuan saat berada
disamping Zion, ia sekarang bingung. Bingung dan bingung yang hanya berputar di
otak Yunda sekarang.
“Nda??”
panggil Zion mencairkan suasana.
“Iya??”
sahutnya dengan menoleh kearah Zion. Dengan langkah 45 Zion langsung menyambar
kedua tangan Yunda. Yunda pun sempat terlonjak kaget ketika tangannya telah
berpegangan dengan kedua tangan Zion.
“Nda,
maaf kalau aku lancang, aku enggak bermaksud jahat ke kamu, aku cuma pengen
tahu jawaban kamu tentang pertanyaanku yang dulu.” ucap Zion dengan sekali
tarikan nafas.
“Aku..
aku……” jawab Yunda gugup. Jari telunjuk Zion pun langsung mendarat dibibir
manis Yunda.
“Ssssttttt
tenang, apapun jawaban kamu aku pasti akan terima kok.” ucapnya lembut. Yunda pun
hanya mengangguk.
“Jadi,
apa jawabannya??” tanyanya lagi. Yunda masih terdiam. Zion pun menundukan
kepala seolah telah putus asa, ia pun kemudian mengambil sesuatu yang ada
disaku jasnya. Boneka twitty mungilpun keluar dari saku Zion.
“Begini
saja, kalau kamu terima aku kamu harus ambil boneka ini dan kalau kamu enggak
menerima aku, kamu boleh buang boneka ini.” terang Zion kemudian. Kali ini
entah apa yang dirasakan Yunda, hatinya serasa meyakinkan bahwa orang yang
berada dihadapannya kini adalah orang yang tepat bagi hidupnya. Yunda pun
tersenyum dan lalu mengambil boneka yang ada ditangan Zion. ia lalu menaruh
boneka itu disamping tempat duduknya. Zion yang tadi mengira bahwa Yunda telah
menerimanya kini dengan gontai menundukkan kepala. Yunda pun tersenyum melihat
ekspresi orang yang ada didepannya ini. Dengan langkah sigap ia mengangkat dagu
Zion, ia pun menyuggingkan seulas senyum manis.
“Aku
sayang kamu.” tiga kata terlontar dari bibir manis Yunda “Twitty nya buat aku
ya?? makasihhh” lanjut Yunda kemudian. Zion yang tadinya melongo dengan apa
yang dilakukan Yunda barusan langsung memeluk Yunda. Pipi Yunda langsung
bersemu merah melihat berpasang-pasang mata menatapnya.
“Hei,
malu tahu dilihatin anak-anak.” Zion pun melepaskan pelukannya dan menggaruk kepala
yang tidak gatal. “hehehe reflek..” cengirnya.
-SEKIAN-
weleh pnjang bgt serpen nya klok ak baca bisa'' bibir q jontor
BalasHapusgaya -__-
BalasHapus