whether true love exists?
“Apakah dia sudah tidak mencintaiku?
Mengapa ia berubah sekali?
Cuek , Jutek, Kadang marah-marah
Ada apa sebenarnya ? “
Kata-kata yang selalu saja
terngiang-ngiang dibenakku. Tidak saja itu, ucapkali aku merasa menjadi sosok lain
dimatanya. KEKASIH ? 7 kata yang hanya bersandang status hubungan belaka.
Pagi yang cerah sekali seindah mutiara Tuhan yang telah
diberikanNya padaku. “Rio” lelaki yang selama ini menjadi penyemangat hidupku,
menjagaku, dan mengarahkanku kejalan yang benar kala aku berada dijalan yang
salah. “selamat pagi Cinta :* ” short message yang ku kirim pada pujaan
hatiku yang sekarang mungkin sudah terbangun dari lelap tidurnya. Hati kecil
berharap dia akan lekas-lekas membalas pesan singkat itu. Satu jam sudah aku
menunggu, tak kunjung ada balasan darinya.
“hmmm mungkin dia sibuk, tak apalah.” Hibur hati kecilku. Telpon
genggam itu pun lekas ku taruh diatas buffet. aku mulai melangkah
meninggalkannya. Beberapa kaki aku melangkah tiba-tiba sebuah lagu Lenka dengan
judul Everything at Once berdering dari ponselku tanda sebuah pesan singkat
hadir disana. Aku bergegas menghampirinya, senyum manis langsung merekah saat message
itu dari Rio. My Lovely.
From My Prince ^_^ : pagi juga
Singkat tapi menenangkan untukku. Ku balas pesan itu secepat
mungkin, dan sekian detik sekian menit sekian jam balasan lama yang kudapatkan.
Ya, bukan kali ini saja. Bahkan mungkin sudah berkali-kali di akhir pekan ini.
Dan yang ku bisa hanya “Bersabar”
*******
“Assalamualaikum Rio sayang”
“Waallaikumsalam, ada apa?”
“Nanti malam jalan yuk ?”
“Kemana?”
“Ke alun-alun kota sayangg”
“Oke”
“Jemput aku habis maghrib ya”
“Iya”
“Ya udah see you to evening my love”
“See you”
KLIK
!
Akupun menghela nafas usai
menelfon Rio. Sesak yang sedari tadi aku tahan perlahan kembali normal.
Ya, bersabar aku bilang. Karna tanpa sebuah kesabaran sebuah hubungan takkan
bisa bertahan lama.
*******
Pukul
18.05
“Sayang uda berangkat belum?”
“Mau berangkat nih” Suara ketus
terdengar dari sana, aku bersabar.
“ya sudah, hati-hati dijalan ya, I
Love You” jawabku penuh kasih sayang.
“Oke”
KLIK
!
‘huufft sabar Ca..’ aku menghela
nafas
‘sabar kan aku Ya Allah’ ucapku
lirih.
*******
From My Prince ^_^ : aku sudah didepan, keluarlah
To My Prince ^_^ :
iya, wait me :*
Usai membalas pesan singkat itu aku
bergegas keluar rumah. Tak lupa aku berpamitan pada Bundaku yang sedang menjahit
baju pesanan orang.
“Bun, aku pergi dulu ya sama Rio”
aku mencium kening bunda
“Pulang jangan malam-malam ya” Bunda
mengelus pipiku
“siaapp Bun” ucapku dengan gaya
hormat ala bendera merah putih, Bunda hanya tersenyum.
“Hati-hati dijalan” pesannya sebelum
aku beranjak.
*******
“Hai, maaf lama” cengirku menghampri
Rio. Ia tersenyum simpul.
“Iya gapapa, buruan yuk”
‘senyum yang menenangkan’ ucap hati
kecilku.
“Ca... Hallo...” Rio menyadarkan
lamunanku.
“eh iya Yo, berangkaaatt.....” Rio
pun menyalakan motornya.
Suasana malam yang indah diikuti
dengan taburan bintang di angkasa raya, tetapi sayang sekali malam itu sang
rembulan enggan hadir menemani indahnya jagad raya. Dan sekali lagi aku
bersyukur karna Tuhan telah mengirimkan malaikatnya untukku. Rio. Ya Rioku.
“Ca, kita kemana nih?”
“Ca.....”
“Caaa...”
“Callista !!!” aku mendengar Rio
membentakku. Seonggok rasa sakit tiba-tiba hadir dalam hatiku. Aku kaget.
“ha? Apa Yo ??” ucapku polos,
terbangun dari khayalan-khayalan semu.
“Kita mau kemana??” tanyanya mulai
kesal.
“ke hatimu Yo.. hhwheheh” candaku
“Seriusan Ca !!” kudengar suara Rio
yang mulai meninggi. Akupun memasang muka sedih.
“Riooo, aku dari tadi
dibentak-bentak terus.”
“Habis kamu sih ditanya malah diem”
“tapi kan halus dikit bisa kan?
Udahlah aku gak mau ribut sama sayangku”
“iya-iya kita mau kemana Sayang??”
ucap Rio mulai melunak.
‘SAYANG’
kata yang jarang Rio ucapkan padaku akhir-akhir ini. Entahlah. Aku tak mau
berburuk sangka padanya.
“ke Kedai Coffe aja deh” sahutku.
“Okeee”
*******
KEDAI
COFFE
Aku menggandeng Rio disampingku, Rio
malam itu tampak tampan dengan kaos polos yang dipadukan dengan celana jeans
berwarna coklat. Aku merasa tangan Rio selalu saja membuatku nyaman saat
tanganku bersentuhan dengannya. Aku tak tau apa yang ada difikirannya sekarang,
tapi aku tahu disana ia pasti menyayangiku. Pasti.
“Selamat malam mbak mas, mau pesan
apa?” ucap salah satu pelayan Kedai itu ramah.
“emm aku pesan Vanilla Latte, kamu
apa Yo?” tanyaku dengan senyum khas ala Callista.
“Biasanya aja Ca” Rio tersenyum,
akupun membalas senyumnya.
“ya sudah, Vanilla latte nya 1
Moccacino nya 1 mbak , o iya jangan pake lama ya mbak” candaku renyah. Pelayan
itu tersenyum dan berlalu.
1
detik.....
5
detik......
10
detik....
1
menit......
“Yo jangan diem dongg” ucapku yang
mulai Bete.
“iyaa iyaa aku gak diem kok..”
jawabnya dengan mencubit kedua pipiku gemas, akupun memasang muka ngambek.
“Ah Riooo tembem tauk “
“mau kucubit lagi itu pipi?? Hehehe”
aku benar-benar bersyukur sekarang melihat Rio tertawa lepas.
“aaaaa
gak mauu” ngambekku dengan menutup muka.
“hahah
Caca ngemesin” ia tertawa.
“Dih..
Rio mah jail -__-“ seorang pelayan menghampiri meja Callista dan Rio.
“Pesanan
datang” ucapnya “Selamat menikmati ^_^” sambungnya dengan tersenyum.
“Terimakasih
mbak !” ucapku bersamaan dengan Rio. Kamipun saling pandang dan tertawa. Mbak pelayanpun
ikut tersenyum melihat tingkah kami.
*******
2 cangkir kopi sudah mendarat mulus
diperut kami. Obrolan yang menurutku kurang bermutupun hampir semua tlah
terlontarkan. Tiba-tiba........
“Yo.....” ucapku dengan mimik muka
serius.
“Apa Cacaku ??” aku tersenyum
mendengar panggilan sayang Rio padaku.
“Aku....... Akuuu....”
“Ada apa Ca??” Rio mulai ikutan duarius.
“E..... A..... O..... I....... “
“Apaan sih Ca? Kok malah belajar
Abjad” Rio bingung. Aku nyengir.
“a... gimana yaa aku takut kamu
marah” aku memasang muka sedih, Rio mengerutkan kening.
“Jujur aja Ca, gapapa kok” sahutnya
santai.
“Akuuu.. akuu.. boleh gak pesan
Latte lagi?” jawabku polos, Rio kemudian menepuk jidatnya.
“loh loh.. kamu kenapa Yo,ada nyamuk
ya?? Mana mana, biar aku gigit dia.” Aku berusaha mencanda Rio.
“Callista -__-, ya udah pesan sana
!!” Rio tampak jengkel.
“aku kok dibentak lagi Yo? Aku gak
boleh pesan lagi ya? Gapapa kok kan aku Cuma bercanda, tapi jangan
bentak-bentak aku dong Yo...” mukaku mulai sedih mendengar bentakan Rio, Rio
yang dulu tak pernah membentakku, Rio yang dulu mengasihiku, mengapa ia
sekarang menjadi begini?
“Aku gak bentak kamu” jawabnya
datar.
“lha itu tadi apa?? Berulang kali Yo
kamu bentak aku, kenapa kamu tempramental sekali padaku? Apa aku salah Yo? :(
“kamu aja paling Ca, yang ngrasa aku
bentak” sekali lagi ia hanya menjawab dengan kata-kata tak penting. Apakah Dia
tak mengerti perasaan Callista? Bukankan dulu yang mati-matian mendekati
Callista adalah Rio. Lalu mengapa sekarang ia berubah? Mengapa sekarang ia
sering membentak-bentak Callista? Apa mungkin ia sudah tak mencintai Callista
lagi?
“kamu sekarang berubah Yo..” ucapku
lirih, hatiku panas, perasaanku tak karuan, rasa kecewa yang aku pendam
perlahan lepas landas melalui bulir-bulir air mata. Aku tak sanggup lagi
menahannya, mereka jatuh tanpa aku suruh. Aku berusaha menyembunyikannya dari
Rio. Karna aku tak mau terlihat lemah dimatanya.
“Ca.. kamu nangis?” Rio mulai panik.
Callista tahu Rio paling gak tega liat cewek nangis apalagi itu karena dia.
Callista tahu Rio menyayanginya, sangat-sangaaatt mencintainya. Tapi itu dulu. Perasaan
wanita itu terlalu peka. Sama juga dengan pesaan Callista. Bukan karena
Callista cengeng, tapi memang ia sudah benar-benar tak mampu membohongi
perasaannya sendiri. Sampai-sampai hanya bulir-bulir air mata yang mampu ia
ungkapkan.
“Ca.. Calistaaa” Rio berusaha
menenangkanku. Aku ingin bicara tapi tak bisa. Suaraku bagai berebut naik ingin
keluar sampai-sampai hanya diam membisu yang aku bisa lakukan. Aku hanya bisa
menangis detik itu/
“Ca.. Diem dong Ca.. jelasin ke aku kalau ada
apa-apa, jangan nangis begini” Rio benar-benar panik. Aku menghela nafas
menahan agar tangis itu tak mempengaruhi ucapan yang ingin aku lontarkan.
“Kenapa kamu berubah Yo??” ucapku
tenang.
“aku gak tahu, mungkin karna sifat
kamu yang berubah.”
“aku berubah kenapa?” tanyaku
setengah terisak.
“kamu uda gak kaya dulu lagi.”
“Lalu?” sahutku cepat.
“Aku mohon jangan menangis”
“Apa kamu masih mencintai aku?”
tanyaku penuh isak. “apa kamu masih menyayangiku? Seperti dulu kah? Dan Apa kamu
masih peduli sama aku? Apa kamu masih
punya rasa ke aku?” berjimbun
pertanyaan meluap dari bibirku, air mata tak henti-hentinya menangisi seorang “RIO”.
“Aku mohon jangan menagis” ulangnya lagi.
“Berapa
tahun kita bersama?”
“hampir 2 tahun” jawab Rio
“Apakah Cintamu memudar? Tatap mata
aku Yo, jawab pertanyaanku” bentakku setangah terisak. Rio menatapku sejenak,
Iapun menunduk. Aku memalingkan muka.
“mengapa kamu tak jujur saja padaku?
Mengapa kamu membohongi aku sejauh ini? Apa dengan cara mu menyakitiku kamu
akan bahagia Yo? Lalu mengapa kau tak menyudahi saja hubungan ini?” tanya ku mulai
tenang. Rio Diam membeku, ia hanya menunduk. Aku lalu mengusap air mataku.
“Sudahlah, aku tahu perasaanmu, Diam
lah saja tak usah pedulikan aku. Memang aku tak pantas mendapatkan perhatianmu.
Maafkan aku. Maafkan aku telah menjadi duri dalam hidupmu. Percuma juga aku
disini, Aku ingin pulang” aku mulai
beranjak meninggalkan Rio yang sedari tadi diam terpaku. ‘Kejar aku Yo, jangan
biarkan aku pergi jika kau mencintaiku’ harapku dalam hati. Aku mulai
melangkah, langkah kakiku terhenti dipintu Kedai tersebut. Aku menghela nafas
sejenak ‘you’re make me sad, So SAD’ ucapku lirih. Akupun meninggalkan Kedai
Coffe itu bersama ‘RIO’ yang membatu didalamnya.
**THE END**

mantap mbk broo ak kasih like 1000 jempol... :D
BalasHapusyeeeeeeeeeeeee :D alhamdulilah :D
BalasHapus