Selasa, 30 Juli 2013

whether true love exists?



whether true love exists?

“Apakah dia sudah tidak mencintaiku?
Mengapa ia berubah sekali?
Cuek , Jutek, Kadang marah-marah
Ada apa sebenarnya ? “

Kata-kata yang selalu saja terngiang-ngiang dibenakku. Tidak saja itu, ucapkali aku merasa menjadi sosok lain dimatanya. KEKASIH ? 7 kata yang hanya bersandang status hubungan belaka.
Pagi yang cerah sekali seindah mutiara Tuhan yang telah diberikanNya padaku. “Rio” lelaki yang selama ini menjadi penyemangat hidupku, menjagaku, dan mengarahkanku kejalan yang benar kala aku berada dijalan yang salah. “selamat pagi Cinta :* ” short message yang ku kirim pada pujaan hatiku yang sekarang mungkin sudah terbangun dari lelap tidurnya. Hati kecil berharap dia akan lekas-lekas membalas pesan singkat itu. Satu jam sudah aku menunggu, tak kunjung ada balasan darinya.
“hmmm mungkin dia sibuk, tak apalah.” Hibur hati kecilku. Telpon genggam itu pun lekas ku taruh diatas buffet. aku mulai melangkah meninggalkannya. Beberapa kaki aku melangkah tiba-tiba sebuah lagu Lenka dengan judul Everything at Once berdering dari ponselku tanda sebuah pesan singkat hadir disana. Aku bergegas menghampirinya, senyum manis langsung merekah saat message itu dari Rio. My Lovely.
From My Prince ^_^ : pagi juga
Singkat tapi menenangkan untukku. Ku balas pesan itu secepat mungkin, dan sekian detik sekian menit sekian jam balasan lama yang kudapatkan. Ya, bukan kali ini saja. Bahkan mungkin sudah berkali-kali di akhir pekan ini. Dan yang ku bisa hanya “Bersabar”

*******

“Assalamualaikum Rio sayang”
“Waallaikumsalam, ada apa?”
“Nanti malam jalan yuk ?”
“Kemana?”
“Ke alun-alun kota sayangg”
“Oke”
“Jemput aku habis maghrib ya”
“Iya”
“Ya udah see you to evening my love”
“See you”
KLIK !
Akupun menghela nafas usai  menelfon Rio. Sesak yang sedari tadi aku tahan perlahan kembali normal. Ya, bersabar aku bilang. Karna tanpa sebuah kesabaran sebuah hubungan takkan bisa bertahan lama.

*******

Pukul 18.05
            “Sayang uda berangkat belum?”
            “Mau berangkat nih” Suara ketus terdengar dari sana, aku bersabar.
            “ya sudah, hati-hati dijalan ya, I Love You” jawabku penuh kasih sayang.
            “Oke”
KLIK !
            ‘huufft sabar Ca..’ aku menghela nafas
            ‘sabar kan aku Ya Allah’ ucapku lirih.

*******

From My Prince ^_^ : aku sudah didepan, keluarlah
To My Prince ^_^      : iya, wait me :*
            Usai membalas pesan singkat itu aku bergegas keluar rumah. Tak lupa aku berpamitan pada Bundaku yang sedang menjahit baju pesanan orang.
            “Bun, aku pergi dulu ya sama Rio” aku mencium kening bunda
            “Pulang jangan malam-malam ya” Bunda mengelus pipiku
            “siaapp Bun” ucapku dengan gaya hormat ala bendera merah putih, Bunda hanya tersenyum.
            “Hati-hati dijalan” pesannya sebelum aku beranjak.

*******

            “Hai, maaf lama” cengirku menghampri Rio. Ia tersenyum simpul.
            “Iya gapapa, buruan yuk”

            ‘senyum yang menenangkan’ ucap hati kecilku.

            “Ca... Hallo...” Rio menyadarkan lamunanku.
            “eh iya Yo, berangkaaatt.....” Rio pun menyalakan motornya.
            Suasana malam yang indah diikuti dengan taburan bintang di angkasa raya, tetapi sayang sekali malam itu sang rembulan enggan hadir menemani indahnya jagad raya. Dan sekali lagi aku bersyukur karna Tuhan telah mengirimkan malaikatnya untukku. Rio. Ya Rioku.
            “Ca, kita kemana nih?”
            “Ca.....”
            “Caaa...”
            “Callista !!!” aku mendengar Rio membentakku. Seonggok rasa sakit tiba-tiba hadir dalam hatiku. Aku kaget.
            “ha? Apa Yo ??” ucapku polos, terbangun dari khayalan-khayalan semu.
            “Kita mau kemana??” tanyanya mulai kesal.
            “ke hatimu Yo.. hhwheheh” candaku
            “Seriusan Ca !!” kudengar suara Rio yang mulai meninggi. Akupun memasang muka sedih.
            “Riooo, aku dari tadi dibentak-bentak terus.”
            “Habis kamu sih ditanya malah diem”
            “tapi kan halus dikit bisa kan? Udahlah aku gak mau ribut sama sayangku”
            “iya-iya kita mau kemana Sayang??” ucap Rio mulai melunak.
‘SAYANG’ kata yang jarang Rio ucapkan padaku akhir-akhir ini. Entahlah. Aku tak mau berburuk sangka padanya.
            “ke Kedai Coffe aja deh” sahutku.
            “Okeee”

*******

KEDAI COFFE
            Aku menggandeng Rio disampingku, Rio malam itu tampak tampan dengan kaos polos yang dipadukan dengan celana jeans berwarna coklat. Aku merasa tangan Rio selalu saja membuatku nyaman saat tanganku bersentuhan dengannya. Aku tak tau apa yang ada difikirannya sekarang, tapi aku tahu disana ia pasti menyayangiku. Pasti.
            “Selamat malam mbak mas, mau pesan apa?” ucap salah satu pelayan Kedai itu ramah.
            “emm aku pesan Vanilla Latte, kamu apa Yo?” tanyaku dengan senyum khas ala Callista.
            “Biasanya aja Ca” Rio tersenyum, akupun membalas senyumnya.
            “ya sudah, Vanilla latte nya 1 Moccacino nya 1 mbak , o iya jangan pake lama ya mbak” candaku renyah. Pelayan itu tersenyum dan berlalu.
1 detik.....
5 detik......
10 detik....
1 menit......
            “Yo jangan diem dongg” ucapku yang mulai Bete.
            “iyaa iyaa aku gak diem kok..” jawabnya dengan mencubit kedua pipiku gemas, akupun memasang  muka ngambek.
            “Ah Riooo tembem tauk “
            “mau kucubit lagi itu pipi?? Hehehe” aku benar-benar bersyukur sekarang melihat Rio tertawa lepas.
            “aaaaa gak mauu” ngambekku dengan menutup muka.
            “hahah Caca ngemesin” ia tertawa.
            “Dih.. Rio mah jail -__-“ seorang pelayan menghampiri meja Callista dan Rio.
            “Pesanan datang” ucapnya “Selamat menikmati ^_^” sambungnya dengan tersenyum.
            “Terimakasih mbak !” ucapku bersamaan dengan Rio. Kamipun saling pandang dan tertawa. Mbak pelayanpun ikut tersenyum melihat tingkah kami.

*******

            2 cangkir kopi sudah mendarat mulus diperut kami. Obrolan yang menurutku kurang bermutupun hampir semua tlah terlontarkan. Tiba-tiba........
            “Yo.....” ucapku dengan mimik muka serius.
            “Apa Cacaku ??” aku tersenyum mendengar panggilan sayang Rio padaku.
            “Aku....... Akuuu....”
            “Ada apa Ca??” Rio mulai ikutan duarius.
            “E..... A..... O..... I....... “
            “Apaan sih Ca? Kok malah belajar Abjad” Rio bingung. Aku nyengir.
            “a... gimana yaa aku takut kamu marah” aku memasang muka sedih, Rio mengerutkan kening.
            “Jujur aja Ca, gapapa kok” sahutnya santai.
            “Akuuu.. akuu.. boleh gak pesan Latte lagi?” jawabku polos, Rio kemudian menepuk jidatnya.
            “loh loh.. kamu kenapa Yo,ada nyamuk ya?? Mana mana, biar aku gigit dia.” Aku berusaha mencanda Rio.
            “Callista -__-, ya udah pesan sana !!” Rio tampak jengkel.
            “aku kok dibentak lagi Yo? Aku gak boleh pesan lagi ya? Gapapa kok kan aku Cuma bercanda, tapi jangan bentak-bentak aku dong Yo...” mukaku mulai sedih mendengar bentakan Rio, Rio yang dulu tak pernah membentakku, Rio yang dulu mengasihiku, mengapa ia sekarang menjadi begini?
            “Aku gak bentak kamu” jawabnya datar.
            “lha itu tadi apa?? Berulang kali Yo kamu bentak aku, kenapa kamu tempramental sekali padaku? Apa aku salah Yo? :(
            “kamu aja paling Ca, yang ngrasa aku bentak” sekali lagi ia hanya menjawab dengan kata-kata tak penting. Apakah Dia tak mengerti perasaan Callista? Bukankan dulu yang mati-matian mendekati Callista adalah Rio. Lalu mengapa sekarang ia berubah? Mengapa sekarang ia sering membentak-bentak Callista? Apa mungkin ia sudah tak mencintai Callista lagi?
            “kamu sekarang berubah Yo..” ucapku lirih, hatiku panas, perasaanku tak karuan, rasa kecewa yang aku pendam perlahan lepas landas melalui bulir-bulir air mata. Aku tak sanggup lagi menahannya, mereka jatuh tanpa aku suruh. Aku berusaha menyembunyikannya dari Rio. Karna aku tak mau terlihat lemah dimatanya.
            “Ca.. kamu nangis?” Rio mulai panik. Callista tahu Rio paling gak tega liat cewek nangis apalagi itu karena dia. Callista tahu Rio menyayanginya, sangat-sangaaatt mencintainya. Tapi itu dulu. Perasaan wanita itu terlalu peka. Sama juga dengan pesaan Callista. Bukan karena Callista cengeng, tapi memang ia sudah benar-benar tak mampu membohongi perasaannya sendiri. Sampai-sampai hanya bulir-bulir air mata yang mampu ia ungkapkan.
            “Ca.. Calistaaa” Rio berusaha menenangkanku. Aku ingin bicara tapi tak bisa. Suaraku bagai berebut naik ingin keluar sampai-sampai hanya diam membisu yang aku bisa lakukan. Aku hanya bisa menangis detik itu/
             “Ca.. Diem dong Ca.. jelasin ke aku kalau ada apa-apa, jangan nangis begini” Rio benar-benar panik. Aku menghela nafas menahan agar tangis itu tak mempengaruhi ucapan yang ingin aku lontarkan.
            “Kenapa kamu berubah Yo??” ucapku tenang.
            “aku gak tahu, mungkin karna sifat kamu yang berubah.”
            “aku berubah kenapa?” tanyaku setengah terisak.
            “kamu uda gak kaya dulu lagi.”
            “Lalu?” sahutku cepat.
            “Aku mohon jangan menangis”
            “Apa kamu masih mencintai aku?” tanyaku penuh isak. “apa kamu masih menyayangiku? Seperti dulu kah? Dan Apa kamu masih peduli sama aku? Apa kamu masih  punya  rasa ke aku?” berjimbun pertanyaan meluap dari bibirku, air mata tak henti-hentinya menangisi seorang “RIO”.
“Aku mohon jangan menagis” ulangnya lagi.
            “Berapa tahun kita bersama?”
            “hampir 2 tahun” jawab Rio
            “Apakah Cintamu memudar? Tatap mata aku Yo, jawab pertanyaanku” bentakku setangah terisak. Rio menatapku sejenak, Iapun menunduk. Aku memalingkan muka.
            “mengapa kamu tak jujur saja padaku? Mengapa kamu membohongi aku sejauh ini? Apa dengan cara mu menyakitiku kamu akan bahagia Yo? Lalu mengapa kau tak menyudahi saja hubungan ini?” tanya ku mulai tenang. Rio Diam membeku, ia hanya menunduk. Aku lalu mengusap air mataku.
            “Sudahlah, aku tahu perasaanmu, Diam lah saja tak usah pedulikan aku. Memang aku tak pantas mendapatkan perhatianmu. Maafkan aku. Maafkan aku telah menjadi duri dalam hidupmu. Percuma juga aku disini, Aku ingin pulang”   aku mulai beranjak meninggalkan Rio yang sedari tadi diam terpaku. ‘Kejar aku Yo, jangan biarkan aku pergi jika kau mencintaiku’ harapku dalam hati. Aku mulai melangkah, langkah kakiku terhenti dipintu Kedai tersebut. Aku menghela nafas sejenak ‘you’re make me sad, So SAD’ ucapku lirih. Akupun meninggalkan Kedai Coffe itu bersama ‘RIO’ yang membatu didalamnya.

**THE END**


           
             




2 komentar:

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ